Miss Universe 2015 : Indonesia wins Best National Costume

285628_puteri-indonesia-2014-elvira-devinamira

Kabar yang cukup membanggakan datang dari ajang Miss Universe 2015 yang baru saja usai digelar di Florida International University, Doral, Miami, Minggu (25/1/2015) malam waktu setempat atau Senin (26/1/2015) pagi waktu Indonesia. Wakil dari Indonesia, Elvira Devinamira, berhasil meraih penghargaan Best National Costume atau kostum nasional terbaik.

Dalam ajang tersebut, Elvira tampil mengenakan kostum nasional yang berbentuk menyerupai Candi Borobudur yang begitu megah hasil rancangan Dynand Fariz. Kostum berwarna abu-abu, hitam dan emas yang bertajuk ‘The Chronicle of Borobudur’ itu berhasil memikat siapapun yang melihatnya. Pemenang dari Best National Costume ini sendiri diambil dari vote yang dilakukan di media sosial.

Sebelumnya ia harus bersaing dengan kontestan dari Argentina, Kanada, Jerman dan India dalam 5 besar Best National Costume. Nama Elvira pun akhirnya dipanggil untuk menerima piala penghargaan tersebut.

Tak hanya itu, Elvira juga meraih prestasi yang cukup membanggakan lainnya. Gadis asal Jawa Timur itu berhasil masuk 15 besar Miss Universe 2015. Sayangnya ia gagal masuk ke 10 besar. Namun, keberhasilan Elvira masuk 15 besar sudah merupakan prestasi yang luar biasa mengingat persaingan yang begitu ketat.

bagus-farizDynand Fariz, Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC)

Kesuksesan Jember menjadi perhatian dunia fashion, baik nasional maupun internasional, tidak bisa dilepaskan dari peran Jember Fashion Carnaval atau JFC. Karnaval fashion yang melibatkan ratusan model yang berjalan sepanjang 3,5 kilometer itu memang bisa membuat penggemar fashion membelalakkan mata.

Apalagi ratusan model itu bukanlah model-model asli yang terbiasa berlenggak-lenggok di catwalk. Melainkan sekumpulan anak-anak daerah, bahkan berasal dari pinggiran Kota Jember dengan tingkat ekonomi rendah. Penampilan mereka seolah menabrak tatanan dunia fashion yang selama ini berkiblat pada keglamoran.

Yang jelas, anak-anak tersebut menampilkan kreativitas yang luar biasa. Pengakuan dunia pun mereka dapatkan. Sedikit demi sedikit mereka menapaki mimpi untuk menjadikan Jember sebagai kota mode layaknya Paris dan Italia. Tampaknya, hal itu bukan sekadar mimpi. Sebab, saat ini pun mereka sudah menjadi perbincangan kalangan fashion internasional.

Pastinya, di balik kesuksesan pergelaran yang tahun ini mencapai tahun keenam itu, ada seorang manajer yang luar biasa. Dialah Dynand Fariz, sang pendiri sekaligus presiden JFC and JFC Center. Dengan tekad dan kemauan yang kuat, Fariz -sapaan akrabnya- mewujudkan mimpi-mimpi yang dirajutnya sejak kecil.

Terlahir di sebuah desa terpencil di Kabupaten Jember, Fariz yang asli Desa Garahan, Kecamatan Silo, merasa tidak sedikit pun bangga akan kota kelahirannya. Saat itu, di mata Fariz, Jember merupakan kota kecil yang tidak menarik dan tidak memiliki keistimewaan yang menjadikannya dikenal orang.

Kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan justru memperdalam rasa rendah dirinya. Apalagi saat mengikuti pendidikan di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/Unesa), perasaan tertekan karena berasal dari kota yang dianggap ndesa semakin memengaruhi pikirannya.

“Hanya ada satu hal yang saya pikirkan saat itu. Saya ingin bangga dengan kota kelahiran saya sekaligus bangga dengan diri saya,” katanya. Sebab, dengan kondisi yang serba terbatas, Fariz selalu minder jika berhadapan dengan orang lain. Dia merasa kecil, terutama dengan teman-temannya semasa kuliah.

Untung saja, dia selalu berpikir positif, menganggap hidupnya tidak akan berubah jika bukan dirinya yang mengubah. Karena itu, dia mulai menggali potensinya. Akhirnya, Fariz memahami bahwa dirinya terlahir hanya untuk berkarya lewat seni.

Laki-laki yang menjadikan kedua orang tuanya sebagai sumber inspirasi itu memulai perjuangan dengan belajar berbicara di depan publik. Maklumlah, sejak kecil Fariz tergolong pendiam dan pemalu. Lewat cermin, dia terus melatih kemampuan bicara, bahkan sampai meniru gaya pembawa acara sekelas Tantowi Yahya. Sedikit demi sedikit, dia mampu berbicara di depan umum, bahkan berimprovisasi.

Akhirnya, dengan keberaniannya, dia mulai mencoba menjadi MC pada acara-acara keluarga. Jalan hidup yang dilaluinya mulai menampakkan perubahan. Berawal dari kemenangannya pada lomba MC di Surabaya, rasa percaya dirinya mulai tumbuh dan dia mulai tahu jalan hidupnya.

Merasa kurang mendapat tantangan jika hanya menjadi seorang dosen, Fariz yang setelah lulus langsung diterima menjadi dosen di almamaternya, IKIP Surabaya, pada 2000 mencoba peruntungan dengan mengikuti program beasiswa yang disponsori sekolah mode ESMOD Jakarta.

Keberhasilannya menembus beasiswa ESMOD mengantarkan juara lukis dunia yang digelar sebuah lembaga di New Delhi pada 1978 itu menjalani kehidupan baru sebagai pelaku fashion.

Kecerdasan yang diimbangi semangat pantang menyerah menjadi kekuatan baru yang menjadikan Fariz sebagai siswa berprestasi. ESMOD pun memberikan beasiswa belajar di ESMOD Pusat, Paris, selama tiga bulan. “Saat itu benar-benar seperti mimpi. Saya yang anak ndesa bisa ke Paris. Di sanalah gagasan untuk menjadikan Jember sebagai kota mode mulai terbentuk,” ujarnya.

Keinginan tersebut tertanam kuat di benaknya sehingga begitu kembali ke tanah air, Fariz langsung mendirikan rumah mode yang berkiblat pada tren fashion dunia. Rumah mode yang diberi nama House of Dynand Fariz itu juga dia dirikan di Jember sebagai batu loncatan menuju Jember Kota Mode.

Mungkin saat itu sebagian orang menganggap keinginan Fariz sebagai ide gila dan liar yang sulit diwujudkan. Tapi, siapa sangka berawal dari kegilaan tersebut, sebuah karnaval fashion berhasil dia buat. Bahkan, mendapat pengakuan dari kalangan fashion dunia dan diliput berbagai media, baik lokal, nasional, maupun internasional.

“Sebuah kebanggaan bagi kami jika karya kami ini diterima masyarakat,” ungkapnya. Sebab, saat mulai membangunnya, banyak aral melintang. Kondisi sosiologis masyarakat Jember yang religius dan adem-ayem, tiba-tiba dikejutkan parade fashion layaknya kota-kota metropolitan.

Apalagi yang diangkat tren-tren dunia. Itu jelas menjadi hal baru bagi masyarakat yang kental dengan nuansa agraris dan pesisir tersebut. “Hal yang paling sulit untuk memajukan kota ini adalah meyakinkan masyarakatnya bahwa fashion bisa memajukan sebuah kota dan peradaban,” jelasnya.

Namun, staf pengajar ESMOD Jakarta itu tak ingin menjual omongan. Berbagai strategi dia rancang untuk menarik minat remaja, segmen yang dia bidik. “Mengapa remaja? Sebab, mereka adalah makhluk pemimpi dan tugas kita, orang dewasa, mewujudkan mimpi mereka,” katanya. Itulah dasar utama terbentuknya JFC. Forum tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkarya, berkreasi, dan menggapai mimpi.

Fariz juga mampu membuktikan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa fashion. Pergelaran JFC merupakan bukti nyata ucapannya itu. Masyarakat Jember, bahkan masyarakat kabupaten-kabupaten di sekitarnya, seperti Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi, tidak pernah absen menyaksikan karnaval fashion terbesar di Indonesia tersebut.

JFC yang dikelolanya seolah menjadi candu, tidak hanya bagi remaja Jember dan sekitarnya. Tapi, juga bagi masyarakat umum. Bahkan, mereka antusias menyaksikan peserta JFC berlatih. Setiap seluk-beluk JFC menjadi perhatian publik.

Kini setelah mengadakan JFC VI, cita-cita go international mulai di depan mata. Berawal dari ketekunannya mengadakan presentasi tentang JFC di berbagai kesempatan, Fariz dan timnya mendapat kesempatan mengadakan pameran di London, Inggris, dalam Jambore Internasional. Tampaknya, mimpi Fariz menjadikan Jember sebagai Kota Mode tak lama lagi akan terwujud. Sebab, berbagai tawaran show dan pameran di luar negeri terus mengalir.

US - MISS UNIVERSE - 2015pu_1_2014_nationalcostumefanvotefinalists_indonesia1_42 1422242201491487628 photographer_uploaded_1_42_4_1421958194_2014

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *