Tana Toraja: Land of Heavenly Kings

7277504268_f46edc5f23_h

Tana Toraja sebenarnya berupa dataran tinggi dan sering disebut sebagai ‘Land of Heavenly Kings’. Menjelajahi area yang kental dengan suasana mistis ini tidak akan pernah membuatmu bosan karena terasering padi yang menghijau akan selalu menemanimu. Masyarakat yang tinggal di Tana Toraja juga sangat ramah pada wisatawan dan mereka masih mempraktikkan ritual kuno yang diadopsi dari agama Kristen setelah pendudukan bangsa Belanda.

Tempat pemakaman umum orang dewasa di Tana Toraja adalah di tebing-tebing tinggi dan di sana banyak terlihat patung yang ‘bertengger’ di gua. Terdapat Lemo atau pekuburan gantung, Londa atau pemakaman di bukit, dan Suaya & Sangala atau pekuburan bayi di pohon-pohon.

Semua wisatawan yang datang ke Tana Toraja ingin menyaksikan ritual-ritual tersebut karena hampir mustahil bisa menemukan di tempat lain. Biarpun arus globalisasi modern terus mengintai, namun masyarakat Tana Toraja tidak terpengaruh. Semua ritual tersebut masih dilakukan hingga kini. Karena pelaksanaan upacara kematian ini tergolong mahal, maka tubuh orang yang sudah meninggal harus diinapkan terlebih dulu selama beberapa tahun hingga uang yang terkumpul cukup untuk Tomate atau pemakaman khas di Tana Toraja.

Upacara pemakaman di Tana Toraja ini memang kaya akan tradisi. Selama pemakaman berlangsung, seluruh keluarga dan handai taulan berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir pada orang yang meninggal. Kalau kamu datang pas ada momen tersebut, di sana kamu akan melihat banyak sekali orang berkumpul dengan beberapa kerbau serta babi yang nantinya akan disembelih di depan para tamu dan dilakukan secara besar-besaran. Biasanya, upacara pemakaman berlangsung selama 3 – 5 hari dan siapa pun yang datang akan diperlakukan dan dijamu seperti keluarga.

Menikmati kecantikan rumah tradisional Tongkonan juga tidak boleh dilewatkan. Rumah-rumah ini punya atap unik dan didekorasi begitu rumit. Rumah ini biasa digunakan untuk Aluktodolo, yaitu semacam ritual keagamaan atau kepercayaan kuno masyarakat Toraja, seperti meyimpan hasil panen di lumbung.

Kete Kesu adalah salah satu desa tradisional di area pegunungan dan merupakan desa tertua di distrik Sanggalangi. Konon, Kete Kesu tidak berubah sejak 400 tahun lalu. Tempat ini juga dinobatkan sebagai salah satu lokasi paling lengkap untuk menyaksikan rumah-rumah tradisional, lumbung padi, tempat pemakaman, persawahan, dan tentu saja padang rumput yang digunakan untuk menggembalakan kerbau.

Dataran tinggi Batutumonga juga tidak bisa dilewatkan. Ini adalah spot tertinggi yang ada di Toraja. View-nya begitu spektakuler dengan udara yang masih sejuk. Dari atas terlihat persawahan dengan padi yang menghijau, rumah-rumah tradisional, serta pegunungan kapur .

IMG_3391-1600x900 tana-toraja-south-sulawesi-indonesia-lemo-graves  tanatoraja-11 Tana Toraja, Salu funeral, buffalo fighting Tana Toraja, Salu funeral, taking offers away dsc0364  IMG_4468 photo-5 Pesta Mangrara Banua Tana_Toraja,_Salu_funeral_(6823105668) 1280px-Traditional_song_and_dance_Tana_Toraja IMG_4370 1405554 indonesia_3-804 mg_7988 Manene-Fenomena-Mayat-Berjalan-di-Tanah-Toraja Untitled 1358937735453109064 IMG_4020_w rambu-solo mummies-dressed-ma-nene-ritual-indonesia photo46

81 Kete Kesu_00002 pemandangan silaga_zpsde8c43b91 tenunn TORAJA1 vdvs

indonesia-sulawesi-map

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *